Pemikiran yang tertuang dalam tulisan
"Cogito, ergo sum." - Rene Descartes
"I think, therefore I am" --> "I do think, therefore I do exist."
"Saya berpikir, karena itu ada saya ada."
Setiap hari, kehidupan kita tidak pernah lepas dari pemikiran. Mulai dari yang sederhana: "Makan apa saya hari ini?", hmm.. atau..."Apakah saya akan makan hari ini?"
Hingga pemikiran yang (dibuat atau tidak dibuat, sengaja atau tidak sengaja menjadi) kompleks, seperti: "Hari ini saya akan presentasi di depan klien penting. Saya akan mulai dengan perkenalan singkat. Saya harus berhasil dalam presentasi ini. Bahan sudah cukup lengkap, sepertinya..tapi saya harus cek lagi. Oh, metode perkenalan apa yang cocok untuk digunakan ya? Apakah dia akan tertarik? Sepertinya sulit, tapi...", dan sebagainya dan sebagainya.
Bagi saya sendiri, dengan aktivitas (hampir setiap) harian saya menggunakan angkutan umum dan melihat banyak sekali fenomena sosial. Mulai dari keluar dari rumah pukul 5 pagi dan melihat banyak orang yang sudah lalu lalang, "saya pikir, saya sendiri yang memulai hari keluar dari rumah jam 5 pagi." - Pengalaman sempit-sempitan di kereta api, "Oh, mengapa PJKA demikian teganya mengubah metode transportasi seperti ini." - Menjalankan kuliah, "Wow, materi ini sangat menarik. Apakah mungkin diterapkan di..." - Pulang di tengah kemacetan Jakarta, bersosialisasi, beraktivitas di internet, hingga akhirnya istirahat malam.
Banyak sekali pikiran yang terlintas. Namun pemikiran itu harus saya sortir, terutama untuk pemikiran negatif.
Cara saya untuk menghindari berpikir negatif adalah... dengan (1.) tidak berpikir.
Bila kemudian terlanjur melintas di pikiran saya, maka saya (2.) menolak untuk berpikir lebih jauh lagi.
Tapi karena konsep pemikiran saya adalah "Your thoughts are free as any bird." [Michael Jackson's], bukannya tidak mungkin pikiran saya sudah terlanjur terbang lepas nun jauh entah kemana tanpa berhasil (baik dengan sengaja maupun tidak sengaja) untuk gue kendalikan. Maka yang harus gue lakukan adalah... (3.) melupakannya. Forget it! Sometimes ignorance is truly a bliss if not prejudice.
Hingga cara terakhir adalah ketika saya tidak bisa melupakannya (simply can't get rid off it out of my mind), dengan demikian saya (4.) wajib menuliskannya. (*katarsis*)
Untuk kemudian menjadikannya lebih bermakna daripada sekedar pelampiasan emosional, maka ada baiknya saya mengkaitkannya dengan kutipan orang ternama maupun teori ilmiah. Kenapa teori? Karena teori ilmiah tidak ada yang tidak baik adanya, teori berfungsi untuk menjelaskan tanpa menuduh.
Mengapa bisa begitu? Karena teori dibuat berdasarkan suatu hipotesis yang didukung oleh bukti ("evidence"). Teori menampilkan suatu konsep atau ide yang dapat diuji. Dalam sains, teori bukanlah tebak-tebak buah manggis. Teori adalah kerangka yang menjelaskan tentang suatu fenomena berdasarkan fakta yang ada. Di dalam psikologi, teori digunakan sebagai model untuk memahami pemikiran, emosi dan perilaku manusia. (http://www.psychologyabout.com/)
And so,
blogging begins..
Enjoy :)
*Kataris adalah pelampiasan secara emosional. Menurut teori psikoanalis, emosional tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk mengeluarkan konflik bawah sadar (unconsious conflict). Contohnya, mengalami stres akibat situasi kerja dapat mengarahkan pada frustasi dan ketegangan. Daripada melepaskan perasaan tersebut dengan tidak layak, individu akhirnya melepaskan perasaan tersebut dengan cara lain seperti melakukan aktivitas fisik atau kegiatan pelampiasan stres lainnya. (http://www.psychologyabout.com/od/cindex/g/catharsis.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar